Kenapa marah padaku?
Bila lingkaran merah jambunya tidak untukmu
Kenapa marah padaku?
Bila tatap matanya tidak untukmu
Kenapa marah padaku?
Bila debarnya bukan untukmu
Aku tak pernah berfikir untuk mengunci hatinya darimu
Karena aku pun tak tau dimana lerak rasanya
Aku tak pernah berfikir menutup matanya memandangmu
Karena aku pun tak tau kemana sorotnya tertuju
Aku tak pernah berfikir menahan tangannya agar tak merengkuhmu
Karena aku pun tak tau kemana ulurnya
Tapi,
Pernahkah kau dengar mereka bilang aku gila?
Karena aku akan benar- benar buat dia untukku
Bila kau terus marah padaku!!!
10 januari 09
aku tak paham mengurusi masalah rasa
Karena itu hanya akan membuat aku bingung
aku tak mengerti mengatur urusan rasa
karena itu hanya akan membatasi aku
apa kau akan bilang aku salah
karena mendekat pada orang yang kau mimpikan setiap malam
apa kau akan bilang aku salah
karena mendekat pada orang yang kau bilang mengusik hatimu
aku tak akan pernah merasa bersalah
karena aku tak perduli tentang rasa mu
aku tak akan pernah merasa bersalah
karena kau ceritakan padaku tentangnya
meski akhirnya mungkin aku akan mengalah
maka itu bukan karenamu
tapi karenaku
januari 09, ntah kapan!!!
Pernahkah tau,
Aku bukan karang yang teguh saja di laut biru
Pernahkah tau,
Aku bukan badai yang jahat seenaknya saja menghempas apa
Pernahkah tau
Aku menjadi bisu ketika beku
Pernahkah tau
Aku menjadi beku ketika gugu
Pernahkah tau
Aku gugu dengan ku
00.08, 29 des 09
Berputar, melingkar
Tinggalkan saja aku dipusaran
Aku mampu menyelamatkan diriku
Aku tau apa yang kumau
Bukan mu
Semua yang terlewati tak masuk juga di logika sadarku
Dahi berlipat- lipat tiap mengingat
Haruskah akku ragu dengan jalan itu
Sedang aku masih suka melalui itu
Aku tau......
Semua seharusnya tak melulu sekedar mengikuti mau
Tapi tahukah....
Mau yang melulu mengikutiku
Padahal aku duduk saja merunut yang lalu – lalu
Terima kasih telah mengorbankanku
Tenanglah, aku pun tak punya banyak cinta untuk kubagi- bagi
Tenanglah, aku juga tak punya cukup banyak kasih untuk kuberi- beri
Terima kasih, telah mengorbankanku
Terima kasih telah mempermasalahkan setiap sayang yang begitu banyak
Aku juga tak cukup mampu dengan semua
Terima kasih, telah mengorbankanku
Terima kasih telah cemburu pada setiap cinta yang mendekatiku
Aku juga tak cukup sanggup menunjukkan cinta
25 desember 09, 20.02 Wib
Apakah aku keterlaluan pada diriku?
Aku tak ingin tersadar
Aku ingin hidup di mimpi saja
Aku telah menyerah pada kenyataan
Dan izinkan saja aku terus tak sadar
24 nov 09
Aku menciumnya
Membauinya
Memeluknya
Membelainya
Mendekapnya
Menatap matanya
Menggenggam tangannya
Mengusap kepalanya
Tapi percayakah?
Itu tanpa rasa
Aku belum menutup mata sejenakpun
Ketika aku sadar, fajar mulai datang bersama lantunan merdu
Aku belum menutup mata sekejappun
Ketika aku sadar, langit tak gelap lagi
Mengapa tak pernah berdamai pada tidur?
Untuk menujunya saja selalu rumit- rumit
4.19 wib, 29 okt
Haruskah akhirnya aku mau ”kebaikan” itu
Sementara sebenarnya itu bukan ”kebaikan”
Atau bagaimana kalau ”kebaikan” itu yang maui aku?
Padahal aku tau kebaikan itu lebih jahat dari kejahatan yang pernah menjahati aku
Malam menyentakkan aku akan rasa yang mulai samar- samar
Aku tak untuknya
Tapi detakku memberitahu
Rasanya untukku
Apa itu?
Yang jelas ada sesuatu dibalik telaga matanya
Apa itu?
Yang jelas ada sesuatu didalam hembus nafasnya
Aku tak ingin tahu
Tapi ketidakpeduliannya memberitahuku
Bahwa dia memikirkanku
Aku tak ingin tahu
Tapi diamnya memberitahuku
Bahwa aku bagian terpentingnya
Semoga, aku salah
Karena akan kaku bila saja mendapati itu benar
Semoga, aku tak benar
Karena akan beku bila saja itu aku
26 okt 09
Kemarin, aku telah terlalu banyak bercerita tentang nya
Kemarin, aku telah berlimpah memujinya di tiap baitku
Hampir sempurnakah?
Tidak!
Pertama kalinya aku salah menilai sosok
Bijakkah dia?
Tidak!
Sikapnya banyak membuat kening berlipat- lipat
Sikapnya banyak membuat alis terangkat- angkat
Atau sebenarnya aku yang tak sadar
Mungkin dia hanya menceracau, mengigau hingga lupa, bahwa dia telah bercerita terlalu banyak padaku
Atau mungkin aku tuli....
Aku hanya benar tentang satu hal tentang dia
Dia punya mata yang bertelaga
hingga orang sepertiku pun bisa berenang terlalu lama disana
hm.....untuk apa mengungkit lagi?
Kesal? Semoga tidak
Biar saja dia
Biar saja dengan segala teorinya yang telah dibalik- baliknya beribu- ribu derajat
Biar saja dia
Biar saja dengan ludah yang dijilatinya
Mungkin dia memang telah benar- benar lupa apa yang melegakan rasa
Dan aku tak berminat untuk mengingatkannya.
22.53, 26 okt 09
Menjadi masalah diantara masalah
Akukah?
Padahal aku telah terus coba pergi
Menjadi masalah diantara masalah
Akukah?
Padahal aku telah melulu untuk lari
Aku terlanjur kehilangan rasa
Bahkan aku lupa dia pernah sangat baik
aku terlanjur kehilangan rasa
bahkan aku lupa dia adalah bagianku
aku terlanjur kehilangan rasa
bahkan aku lupa bahwa kita sama
Aku terlanjur kehilangan rasa
Bahkan aku lupa kita adalah halilintar itu
Aku tak memaksa semesta memberi rasa
Tak meminta alam raya memuja
Aku tak memujuk bentangan langit merunduk
Tak memohon pusaran angin berlutut
Berpaling saja dariku
Agar aku tak gagu, tak gugu
Buyar saja semua tentangku
Agar aku tak ragu, tak gugu
Siapa yang akan salah bila ternyata aku tak merasa
Biasa saja
Aku tak menganggapnya istimewa
Buatku itu biasa
Buatku itu sederhana
Sekali, selesai
Dua kali, selesai
Seterusnya, selesai
Siapa yang gila?
Kaliankah?
Atau aku?
Kita ulangi
Tapi janji, ini bukan tentang hati
Akhirnya aku menemukan masa
Ketika aku tak percaya
Pada orang yang paling kupercaya
Semua terus menunjukkan
Aku salah
Dentang terus saja memperlihatkan
Aku salah
Kali ini,
Aku salah!!!
Ketika semua membingungkan
Arahku tertunjuk pada Nya
Ketika semua menyesatkan
Sinar itu ada pada Nya
Pernahkah rasa membumbungku hingga tak berhati
Pernahkah rasa menenggelamkan aku hingga tak berotak
Pernahkah rasa membuaiku hingga tak tau malu
Tahukah?
Aku belum juga menerima bahwa isi kepala membunuhnya
Aku belum juga menerima bahwa logika mematikannya
Mari bicara tentang yang ada di dada
Mari bicara tenntang gemuruhnya
Mari bicara tentang debarnya
Mari bicara tentang desirnya
Aku membiarkan kelopak mengembang dengan memandangunya saja
Aku membiarkan semua tanpa tahu bahwa ujungnya adalah masalah bagiku
Pernahkah aku menyakiti siapa?
Hingga rasa jantungku yang perih mendapati ini
Benarkah aku pernah membunuh asa siapa?
Hingga aku tak punya kesempatan satu harapan saja
Benarkah aku pernah mematahkan hati siapa?
Hingga aku mendapati hatiku berkeping
00.30, 05 september 09
Menjauh saja dariku karena aku takkan apa- apa
Pergi saja selalu karena aku akan seperti ini saja
Coba saja lupakan aku
Aku tau, kau takkan bisa
Karena aku punya mantra
Yang membuat semua ada
Bagaimana menuruti rassa?
Meminta pertanggungjawaban pada hati bahwa kita memang tak sama
Aku tak akan pernah sanggup menghidangkan duri
Aku tak akan pernah mampu menghadapkan liku
Yang tak semua pernah ada
Yang tak semua pernah dilalui
22 agustus 09, 04.55 wib
Aku tak pernah salah mencintai siapa saja
Karena semua yang tertuang adalah dari lubuk hati yang paling suci
Aku takkan menyesal menyayangi siapa saja
Karena semua yang kuberi adalah dari rasa yang paling ikhlas
Meski mereka bilang cintaku salah
Maka telingaku akan tuli dan memilih mempertanyakan saja pada hati
Meski mereka menunjuk cintaku adalah salah
Maka mataku akan terkatup dan meminta jawaban pada nafas saja
Karena aku tau binar tak pernah salah
Karena aku tau ikhlas tak pernah melenceng
Karena aku tau detak tak pernah bohong
Tentang apa yang aku resapi
22 agustus 09, 11.50 wib
Akhirnya aku mendapati jawaban
Akhirnya aku membuktikan penilaianku
Dan akhirnya aku tau aku harus berdiri sendiri
Agaknya mulai serius memepertanyakan pada hati dan pada diri sendiri
Sanggupkah aku?
Menjalankan apa yang berharap kujalani
Sanggupkah aku menghancurkan kotak mimpiku
Yang sedang aku bungkus cantik.....
Apakah ini suatu perbuatan baik?
Entah........
Yang jelas,
Ternyata aku harus mencoba untuk tanpa menyesali apapun
Tanpa menyesali jalan yang aku ambil
Mematahkan tanganku
menghentikan aliran darahku
membekap mulutku
dan memenggal kepalaku
aku hanya berharap
masih ada DIA diseluruh hatiku
Isi kepalaku mulai berputar
Menghitung- hitung waktu yang terlewati
Menghitung- hitung waktu yang belum lalu
Menghitung- hitung waktu yang tak tau
Aku menghentikan nafas
Untuk sejenak tahu, masih sanggupkah aku?
Aku malu meminta Nya
Khilafku tak berujung
Salahku tak henti- henti
Aku tak berani
Telah jauhkah aku darinya?
Pintaku masih seperti dulu
Tenang saat berdiri, Tenang saat duduk, Tenang saat berbaring
Aku malu akan sendiriku, Maka itu aku tersenyum
Aku takut akan sendiriku, Maka itu aku berlari
Aku takluk akan sendiriku, Maka itu aku teriak, berontak
Tapi tetap saja
Aku
Kalah!!!
Meski begitu, mohon jangan kasihani aku!!!
Aku tak paham apa itu hidup normal
Yang aku tau aku tak hidup seperti orang kebanyakan
Aku tak tau apa itu keluarga bahagia
Yang aku tau keluargaku tak seperti keluarga kebanyakan
Aku tak tau apa itu kasih ibu yang katanya sepanjang jalan
Yang aku tau ibuku tak seperti ibu kebanyakan
Aku tak tau siapa pelidungku
Yang aku tau aku tak berlindung seperti orang kebanyakan
Aku tak mengerti apa itu bernafas tenang
Yang aku tau aku tak bernafas seperti orang kebanyakan
Aku bernafas dengan tenang
Mencoba berbesar hati dengan kebodohan sendiri
Aku bernafas dengan tenang
Mengalirkan udara ke paru- paru
Aku bernafas dengan tenang
Mengalirkan darah dengan benar
Tak ada salahnya bersamai
9 juni 09. 00.15 wib
Aku mulai mempertanyakan siapa ”dia”?
Entah bagian mana yang membuatku mulai kehilangan rasa
Tak ada yang salah dengan ”nya”
Dia tetap saja punya magnet kuat
Tapi mengertilah
Magnet itu juga dapat melemah
Juka utara dan selatan semakin menjau
Magnet itu juga dapat hilang
Ketika gelombang- gelombang kacau tak pernah enggan untuk menyingkir darinya
Taukah,
Aku telah meninggalkan bagian hidupku yang lain demi ”nya”
Dan aku tak akan menyesal
Karena aku akan mendapatkan semua tentang ”nya”
Tapi taukah
Detik ini,
Aku mulai merasa tak punya apa- apa
Mubes, lt 4 gedung DR