Rabu, September 26, 2018

Minggu, September 09, 2018

hushhhhusshhhhhhushhhh
berpaling kiri kanan kiri kanan
menghembuskan angin sepoi-sepoi
mengacaukan ribuan file yang dimainkan dalam benak
disusun dalam tiap folder yang berbeda
tapi tetap saja tumpang tindih
ada banyak frame yang menyedihkan
namun landscape paling indah menghentikan gerutu untuk menyesalinya
begitulah hidup katanya

Rabu, Agustus 29, 2018

aku ingin hidup

cara satu-satunya untuk hidup adalah dengan tidur
tapi aku belum juga sanggup untuk tidur yang baik
aku akan melulu sakit kepala dengan cara tidur begini
sementara ada banyak hal yang harus kukejar
aku ketinggalan banyak
terlalu banyak untuk orang yang telah menghabiskan waktu yang sia-sia
kuingat-ingat lagi
aku tidak punya apa-apa
aku harus mengejar semua
semua yang tersimpan rapi dalam kotak-kotak fikiran
yang aku jaga hingga berkarat
yang aku simpan hingga hampir terlupa
aku harus cepat
bisakah bantu aku tidur tepat
bintang

-z-

Minggu, Agustus 26, 2018

moment palsu

ada langit yang berbintang antara debaran konyol
di satu sisi pun kotor
hembusan yang bukan lagi sepoi-sepoi menambahi otak yang perlu di caci maki
tak bisakah
biarkan berlalu saja tanpa rasa
melulu kalah dengan prasangka
siapa tahu ketika mentari menyengat dengan panasnya
bahkan lupa pada segala yang dasarnya tidak perlu dikhawatirkan

udara berpendaran di sekitar debar yang naik turun
ada yang takut jatuh cinta
ada yang terburu menafsirkan putaran waktu
yang lainnya cemburu satunya tak ingin tahu
layaknya dentang berhenti membekukan ingatan yang harus dihapus
namun denting membentangkan gulungan waktu
pendek pendek namun ditarik- tarik
kecil-kecil namun mengembang hingga mengambang
ada moment-moment tak penting mendadak lucu
waktu-waktu terabaikan tiba-tiba teramat bermakna

-z-

dini hari

dini hari lagi
terjaga
mengira
namun apakah masih berdoa?

Rabu, Agustus 08, 2018

aksara yang lari

ketika aku terjaga ada berjuta kalimat yang berharap dihamburkan
ketika aku duduk ada banyak susunan kata yang merayu-rayu untuk ditulis sejajar kemudian berbaris-baris
saat berbaringpun
bahkan dengan mata tertutup ada miliaran huruf-huruf yang menari-nari kesana kemari
namun
ketika aku memegang pena mereka bersembunyi
saat aku membuka laptop mereka berlari-lari menjauh
aku kehilangan kata-kata
ah.....
belajarku tak khatam juga
padahal aku sudah muak belajar
tapi aku belum juga pintar

Jumat, Februari 09, 2018

Prosopagnosia

Aku mengingat-ingat tempat yang aku datangi dengan sukacita, melewati jalan yang aku lalui dengan gembira. Aku bahkan mengingat detailnya. Suatu waktu, ketika panas terik. Matahari menyengat dengan 33° C. Peluhku bercucuran minta ampun. Debu bertebaran, klakson mobil dan sepeda motor bersahut-sahutan berlomba dengan teriakan orang yang tak sabar ingin pulang. Berikutnya aku sedang menikmati air kelapa muda, segarnya sepesti sebuah senyuman. Lain waktu, hujan turun satu satu. Gerimis. Aku ingin menempuhnya saja, sedikit basah tak masalah, fikirku. Lalu seseorang memayungi dengan omelan yang panjang. Berisik namun merdu.
Namun, sepanjang kenangan indah yang aku ingat hampir sempurna. Aku lupa pada hal yang paling penting untuk mengisinya. Aku lupa pemilik senyum segar dan suara merdu itu. Aku membolak-balik ingatan dengan teliti, perlahan memindai satu persatu raut wajah yang melintas di tiap pusat syaraf. Tapi aku tak menemukannya juga. Wajah yang mana pemilik senyum itu.
Ah, aku ingat. Aku menghapus semua fotonya dari laptop, hardisk, sosial media dan handphone. Apakah aku benar-benar lupa. Selain wajah, sebenarnya aku mengingat semua tentang dia. Suara, gesture, gaya dan sebagainya. Tapi aku sepenuhnya lupa pada wajahnya.
Haruskah aku merasa beruntung dan bersyukur dengan sangat banyak.