Aku mengingat-ingat tempat yang aku datangi dengan sukacita, melewati jalan yang aku lalui dengan gembira. Aku bahkan mengingat detailnya. Suatu waktu, ketika panas terik. Matahari menyengat dengan 33° C. Peluhku bercucuran minta ampun. Debu bertebaran, klakson mobil dan sepeda motor bersahut-sahutan berlomba dengan teriakan orang yang tak sabar ingin pulang. Berikutnya aku sedang menikmati air kelapa muda, segarnya sepesti sebuah senyuman. Lain waktu, hujan turun satu satu. Gerimis. Aku ingin menempuhnya saja, sedikit basah tak masalah, fikirku. Lalu seseorang memayungi dengan omelan yang panjang. Berisik namun merdu.
Namun, sepanjang kenangan indah yang aku ingat hampir sempurna. Aku lupa pada hal yang paling penting untuk mengisinya. Aku lupa pemilik senyum segar dan suara merdu itu. Aku membolak-balik ingatan dengan teliti, perlahan memindai satu persatu raut wajah yang melintas di tiap pusat syaraf. Tapi aku tak menemukannya juga. Wajah yang mana pemilik senyum itu.
Ah, aku ingat. Aku menghapus semua fotonya dari laptop, hardisk, sosial media dan handphone. Apakah aku benar-benar lupa. Selain wajah, sebenarnya aku mengingat semua tentang dia. Suara, gesture, gaya dan sebagainya. Tapi aku sepenuhnya lupa pada wajahnya.
Haruskah aku merasa beruntung dan bersyukur dengan sangat banyak.
Jumat, Februari 09, 2018
Prosopagnosia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar