Kamis, Juli 17, 2008

ke eLKa, 27 Juni ta0n lalu

Ini sengaja… khan????

Keping nista berhamburan meneriakkan keji
Jeritnya,
melengking merobek ketakberdayaan!
Manusia tak lagi berarti
Mudah saja memburai jasad menyerak diri
Tangan- tangan Tuhan pun tak menghukum tanpa mengadili
Seenaknya saja mengantar neraka ke depan mata
Meregang nyawa tanpa makna
Tanpa di pinta akan mati juga
tanpa dinanti akan datang hari
Jadi kenapa harus secepat ini,

Mati!!!!

_01.01wib,medan , 12januari07_


AL-QUR’AN


Bualan- bualan sampah bernuntahan dari mulut kotor
Leleran liur tak hanya membasahi namun mulai mengotori
Orang bodoh mengolok dengan kata tak berarti
Karena itu ucapan si PENJILAT
Bagaimana harus dijelaskan?
Aku telah kehilangan cara untuk berkata tanpa emosi
Atau biarkan….
Toh jiwa ‘itu’ tetap mati tetap kotor penuh bakteri
dan yang pasti!
‘Itu’ tak akan berhenti
Lebih baik aku menatapmu
Lama…..
Menyelamimu lebih dalam
Menenangkan hati dengan untaian indahmu
Dan ‘itu’?
Tetap tak mengerti
Bahwa engkau petunjuk diri
Bahwa engkau penyejuk hati
Dan ‘itu’?
Takkan mau akui
Bahwa AL-QUR’AN
Kalam Ilahi

_Medan , saat itu.....Saat pembual berkata tolol_


Goresan cinta

Nafasku terhenti k’tika kelam menghentikan aku menulis
Aku mati saat gelap melarang aku bercerita
Aku akan mencari cahaya meski itu seberkas saja
Karena hitam tak akan bertahan menyimpan terang
Kubaca aksara yang dengan rapi tersimpan di dasar hati
Kumaknai dengan seluruh yang kupunya setiap barisnya
Yang menjadi arti untuk aq yang tak berarti
Sabda Rasul pun ditulis atas nama cinta agar tak hilang
Karena hatipun terkadang mati!
Selayaknya Firman Sang Cinta yang kuciumi hingga kini
Meski kan tak seagungnya
Setidaknya kelak
Tiap barisnya menjadi satu cinta untuk siapa saja yang ikhlas menerima


_23.30wib,medan , 15maret’07_


Menuju Akhir

Ketika mentari tak terlihat lagi di ufuk timur

Tangisku tak berarti

Pintaku tak bermakna

Taubatku tak diterima

Lagi!!!

Tak lagi ada indah terbit surya di kaki langit

Tak lagi ada pesona merah bata di ujung senja

Barat tak lagi bersedia menyimpan matahari dalam peluknya

Angkasa tak lagi kokoh menahannya dia atas sana

Menjadi sama tiap detak waktu yang berlalu

Menjadi hasta tahun cahaya yang beribu

Dan hamba?

Baru akan tau,

Apa itu arti sesal yang sebenarnya

Yang menjadikan tubuh kaku

Yang membuat hati beku

Yang menahan lidah hingga kelu

Jantung

Menciut kecut sedang darah berbalik- balik lupa tempat edar alirnya

Tolong….

Ampun…

Kurelakan semua Tuhan!!!

Lamat- lamat kurunut doa berharap luluh

Sedu sedan kurangkai ratap yang meluruh

Tapi apa?

Jingga panas menjawab dengan panas

“Bahwa itu kini TERLAMBAT”
_07.35wibmedan , 18maret’07dengan cucur peluh yang membenamkan_


4JJI

Aku meleleh di dingin kelam pekat malam,
Menjadi hitam dalam bening terang

Aku kuat dalam pelukan ketakberdayaan yang
tak henti melemahkan yang memohon kokoh

ALIF saja menopang hingga tegak tak erjatuh
Memeluk aku menuju hangat dalam rengkuhan LAM- LAM
Menuju bahagia di setiap menunduk
berlutut
bersujud di HA Yang Maha
menjadi mulia saat menghamba pada

ALIF LAM LAM HA

Menjadi tinggi ketika bersimpuh memohon pada

ALLAH

Sang Suci

Sang Tinggi

_23.45wib,medan , 09april’07_


Si Tuan Tak Tahu Malu

Kukunyah Nurani
Agar dia tak lagi bertanya
tentang akhir tiap lembar DOSA yang aku persembahkam
Diam kubekap kata hati
ketika dia mulai berisik menghitung- hitung tiap inci SYAHWAT yang aku umbar

Bukan peduliku jika kekokohan bernama MORAL sebentar lagi akan terbenam karam
Kulempar senyum bersama sobekan AKHLAK anak manusia ke angkasa biar terbang hingga hilang karena aku adalah “SI TUAN TAK TAHU MALU”

_00.04wib,medan , 21 april ‘07_


Dan Beliau pun akan marah

Ketika pedang membelahku,
Aku tak merasa sakit!
Karena aku menganggapnya sebagai nikmat menuju syahid
Saat peluru mengoyak,
Sedikit perih pun tak ada!
Sebab harum syurga tercium bersamaan
Kupandang hakus jerami, seolah patah dengan angin saja
Tapi, aku hancur saatnya menusuk orang- orang yang memandikan keringatnya
Untukku!
Aku berburai menyaksi debu menembus “Kasih Tuhan” untukku atas nama,
Sahabat!
Hingga kumenadah pada Pengabul Doa
“Haramkan Syurga untuk mereka yang tak mencinta Pencintaku
_04.10wib_




Untuk Sahabat

Sempurna apa lagi dunia?
Ketika As-shiddiq pun tak cukup setia
Setangguh apa lagi dunia?
Jika Sang Khattab pun lemah untuk,nya
Kemana lagi mencari cinta?
Saat Dzun-Nurain pun bukan kekasih
Jadi ilmu apa yang diberkahi?
Sepicik pantas nyatakan bodoh Sang Gudang Ilmu
Melatapun berlutut mengangguk mengaku angguk
Ceracau burung yang tak kumengerti pun iyakan iya yang tertulis di lembaran waktu
Angin berlomba hembus tak tersabar dengar ucapan kotor para pendengki
Bumi berangsur tunduk ikuti sembah surya atas pemilik Arsy’
Tetapkan syurga untuk “Pencinta” di sekitar “CINTA”

_04.15wib_


Telah sempurna!

Karena timur bukanlah barat
Takkan bersanding selatan dan utara
Berlari matahari dijemput senja meski rembulan miliki sejuta pesona
Biar saja hilang!
Karena hitam bukanlah putih
Omong kosong saat kosong kan penuhkan yang terisi
Karena sepatu tidak menjadi topi

Ke ujung langit temukan sepotong senja untuk sang fajar
Bila tak melecih gelap pada terang yang mencuri tenang
Si bodoh saja buang akhirat untuk dunia
Karena takkan pernah ada tujuh sempurna Sang Lima
_

04.20wib,kamis, 24 mei ‘07_


Menjamu pagi

Belaian sang subuh melenakan aku menikmati alunan cinta yang mengalir hingga kepala
Desir damai lebih terasa di tiap aku menepakkan dahi ke bumi Sang Pencipta
Bersujud memohon Sang Kasih mengecupku dengan untaian sayang-Nya yang menyayang
Kupujuk jiwa yang menunduk
Kurayu raga yang bersimpuh
Mengakhiri ritual cinta yan mengawali hari
Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuhu
Kusapa pesuruh Ilahi agar dia mendoakan aku dengan doa makbulnya
Ami…….n

_Bumi Allah,di antara Subuh_


Harap- harap Cinta

Ketika cinta jadi dewa
Dekap-Mu melebihi syurga
Ketika cinta jadi berhala
Dekat-Mu mangalahkan aliran darah
Ketika cinta jadi segala
Cinta-Mu membuat aku tak buta

_Di bawah kelam malam,Menuju sepertiga malam_


Suara Kemunafikan

Aku tak tersungkur dalam keikhlasan nenyembah-MU
Hanya takut ketika sengsara menerpa
Aku tak menangis karena baluran dosa
Cuma takut tak kebagian dunia

Aku tahu Engkau Maha Tahu segala yang ada di fikir bahkan hatiku
Tapi kemunafikan tetap memaksa menipu yang Tak Tertipu
Menadah memohon petunjuk hingga tersedu memohon ampun
Tapi apa di balik itu
Bukan ketulusan yang merajai
Tapi dunia, singgasana, harta ada di belakang tadah tangan peminta

_Tanah basah,Ketika tersungkur kalah_




zoelzz

Tidak ada komentar: