Sabtu, Juli 26, 2008

tUlisan laMA teNtang AAC anAkgAraz: "zoelzz pengkhianat"

Dibalik Menggodanya Ayat- Ayat CiNTA


Al-qur’an adalah janji Allah SWT untuk satu kesempurnaan manusia walaupun pepatah selalu bilang ‘no body’s perfect’. Tapi, sekali lagi alqur’an adalah bukti.

Islam adalah jalan yang dibuat Allah SWT tanpa salah. Tapi anehnya, masih saja ada yang mempertanyakan ‘benarkah tidak ada cela untuk orang yang menjalankan Islam secara kaffah?’

Itulah salah satu kekecewaan yang qrasakan akan keraguan orang- orang pada sosok Fahri bin Abdullah, tokoh sentral dari novel fenomenal karya Habiburrahman El-Shirazy, hingga perlu terlalu banyak ‘pengurangan’ dan ‘kemelencengan’ yang harus dilakukan untuk menampilkan sosoknya secara visual.

Sesuatu yang fenomenal memang selalu menggiurkan dan menantang. Begitu juga dengan novel Ayat- Ayat Cinta. Kesuksesannya meraup pembaca sekaligus meraup keuntungan membuat ‘gatal’. Disamping itu, kehebatan novel tersebut menyabet berbagai penghargaan menjadikan ‘yang kreatif’ penasaran. Mungkin yang disebutkan tadi hanya beberapa dari berbagai alasan untuk mengemas novel tersebut menjadi sebuah film. Patokan yang lebih tinggi terlebih dahulu manuntut film AAC harus ‘sekeren’ novelnya. Namun, itulah Indonesia segala kekurangan dianggap biasa dan dicoba mengerti. Terlalu banyak alasan yang mengelak ‘mana mungkin film bisa sepersis novelnya!’

Walau materi di novel AAC terlalu banyak tapi tetap saja ‘bagian’ yang telah dipilih untuk ditampilkan di tiap adegan menjadi tanggung jawab pembuat film Ayat- Ayat Cinta (AAC) tersebut agar ‘sesempurna’ novelnya.

Penulis jadi berpendapat, Bila salah satu seni (dalam hal ini film) dapat merusak seni yang lain (dalam hal ini novel) apa tidaj sebaiknya pisahkan saja satu dengan yang lainnya. Apalagi dalam hal ini nilai Sastra yang dipertaruhkan. Dan hal yang lebih besar lagi yaitu Islam.

Saat membaca novel AAC, sebagai Muslim aq bangga akan agama Islam. Dari pola hidup, tingkah laku (akhlak), tujuan, prinsip, kekukuhan hati, ikhlas cita- cita hingga makna cinta yang sebenarnya.

Tapi, sekali lagi saat menyaksikan filmnya malah kerancuan dan makna ambigu yang tertangkap.

aq masih ingat, ketika membaca novel kang Abik dulu. Sebagai perempuan, tokoh Fahri begitu melekat di hati, hingga tokohnya menjadi patokan buatq dalam menilai seorang pria. Almost perfect, Mendekati Muhammad SAW.

Namun, saat aq dan teman- teman menonton film AAC setelah menunggu lama karena film tersebut terus mengalami penundaan ditambah menunggu antrian panjang, hal yang didamba- damba itu tak juga muncul. Bahkan di film itu sosok Fahri yang “almost perfect” tak ubahnya bagai seorang yang tak punya prinsip.

Sebenarnya aq sempat merasa ragu menulis tulisan ini. Apalagi ketika semua orang baik pejabat, tokoh masyarakat sampai mantan presiden mengacungkan jempol untuk film tersebut. Apalagi film itu adalah merupakan udara segar, hal baru dalam menyampaikan syi’ar. Setelah beberapa lama ternyata aq tak tahan juga terlalu banyak pertanyaan yang berseliweran di kepala. Akhirnya aq memberanikan diri juga. Kadang aq juga sungkan, apakah pertanyaan yang aq akan tuliskan berikut terlalu mengada- ngada. Tapi terus terang tidak ada maksud untuk mencari- cari kesalahan, hanya untuk saling mengoreksi sesama saudara. Berikut beberapa pertanyaan mengusik tersebut:

- ‘Lembut hatinya’ bukan saja ringan menolong orang yang kesusahan. ’lembut hatinya’ juga diartikan sebagai orang yang peka akan perasaan orang lain, memahami dan pandai membaca hati. Hingga hal yang mudah tentunya bila hanya untuk memahami perasaan cemburu seorang perempuan.

- aq terus saja mendengar cemoohan dari orang- orang yang menyaksikan adegan Fahri ketika memandang Maria dengan sangat dalam. aq ciut, cemoohan itu untuk seorang yang mengusung Al-Qur’an dengan sepenuh hatinya.

- Mengapa seorang dewasa yang menargetkan menikah di planning life-nya tak memahami makna ta’aruf dengan baik, sehingga butuh penjelasan ’lebih’ dari orang lain terlebih dahulu untuk melaksanakan ta’aruf tersebut?

- aq yakin dengan sangat maksud kang Abik menulis Fahri tidak hendak menikahi Maria adalah karena Maria bukan seorang muslim. Karena budak muslim pun lebih baik daripada wanita musyrik meskipun sia menarik. Alasan tersebut lebih kuat dari pada keraguan Fahri berpoligami.

- Mengapa seorang Fahri harus meragukan ayat Allah tentang poligami?

- ’Kau sombong, Fahri?’ Kata- kata itu terus saja terngiang di telingaq mendapati umpatan seorang Bapak pada Fahri. Sebuah bencana bukan saja diartikan sebagai suatu azab atau teguran dari Allah tapi bisa saja itu bentuk ujian sebagai tanda kasih sayang Allah untuk mengangkat derajat hambanya. Lagipula tidak ada sedikitpun kesan sepanjang alur yang menyatakan Fahri sombong. Apalagi kata- kata ”kau selalu merasa paling benar” wah itu seolah suatu ejekan untuk mereka yang alim, yang mempertahankan hukum tuhannya dengan kesan munafik dan sok suci.

- Sabar dan ikhlas yang disampaikan pak tua di penjara adalah kebenaran tapi mengapa orang yang memahami agama sebegitu dalam tak menjalankan perintah agama sewajib sholat? Apa agama hanya sebatas opini?

- Tanda tanya terbesar, mengapa seorang Fahri tak mengajarkan Islam pada perempuan yang telah menjadi istrinya? Telah lupakah pria itu akan Islam yang dijalankannya?

- Nurul. Perempuan Indonesia, sahabat Fahri itu seharusnya dapat dijadikan teladan untuk perempuan muslim dalam memahami makna cinta. Nurul adalah sosok yang baik, pintar, cantik, kaya, dari keluarga ulama/ keturunan yang baik, tak kalah sempurnanya dibanding Aisya si pemilik mata indah atau bahkan Nurul malah melebihi Aisya. Hanya garis jodoh yang tak menggerakkan hati sang paman untuk bersegera melamarkan Fahri untuknya. Jadi, sungguh sangat merendahkan seorang muslimah bila dikatakan cahaya hidupnya hilang hanya karena dia tak bisa memiliki orang yang dicintainya. Mungkin dalam hati ya, (terasa sangat menyiksa!) namun tidak secara sikap. Bila dia ditampilkan dengan sangat berantakan hanya karena tidak dapat memiliki seorang laki- laki. Karena sesungguhnya Allah saja yang akan meneranginya dengan sabar dan ikhlas. Pilu? Pasti! Tapi keyakinan perempuan seperti Nurul pada Allah adalah pengobat, persis seperti yang dijalani Aisya, ketika menerima Maria menjadi madunya.

- Masih tentang Nurul. Apa memang sengaja ya, merubah imej Nurul yang ’indah’ menjadi ’sangat biasa’? Fedi Nuril dalam suatu wawancara di radio star medan menyebutkan bahwa Nurul melepaskan jilbabnya karena tak mendapatkan Fahri! heh.... meski aq bukan perempuan berjilbab tapi aq prihatin dengan alur cerita film itu.

- Bukankah setelah diselamatkan Fahri dan sahabat- sahabatnya tak ada jeda Noura dapat disakiti hingga ia tiba di rumah orang tuanya. Jadi, kenapa Bahadur bisa memperkosa Noura setelah diselamatkan hingga Bahadur ingin tau siapa yang menyelamatkanya?

- Mengapa ustad Jalal harus mempermalukan Nurul dengan mendatangi Fahri? Nurul mungkin saja bisa kalut tapi Bukankah Ustad Jalal seorang yang cerdas bukan hanya dalam urusan pendidikannya tentunya...........

- Aisya perempuan lembut? Tentu! Tapi tutur bahasa dan sikap Aisya pada Fahri ’di sana’ tak ditampilkannya dengan tepat.

- Setiap menjenguk Fahri, Aisya bukan menenangkan Fahri malahan terus saja membuat Fahri semakin gundah.

Sekali lagi, penulis tak berharap film tersebut sepersis Novelnya. Tapi sangat berharap tak melenceng dari maksud syiar Islam yang ingin disampaikan ’penulis amanat’.

Film AAC mungkin lebih mengedepankan tema- tema besar dalam tujuannya. Seperti masalah poligami atau kemanusiaan, tapi ada baiknya hal- hal kecil tidak dilupakan. Bukankah sesuatu yang besar berawal dari hal yang kecil! Dari sekian banyak penonton film AAC, tak ada satupun yang ’ngeh’ tentang pesan dari adegan di kereta selain pesan ’menolong orang Amerika’. Semua tetap saja tak mengerti seberapa pentingnya berShalawat Atas Baginda Rasulullah SAW.

Hampir saja terlupa, salah satu komentar yang harus saya sampaikan dari beberapa orang yang juga telah menonton film AAC. Mereka bilang begini,

”Ya iyalah. Secara yang bikin filmnya khan laki- laki, mo merubah opini tentang poligami tuch.....”

Nah........Ternyata kebenaran sulit menembus hati yang egois. Jadi perlu menampilkan Fahri ’secara utuh’ agar semua perampuan akan berkata,

”Fahri? Jangankan istri ke-2 jadi istri ketiga juga rela. Udah soleh romantis pula.”

atau

”Mo poligami? Udah bisa kayak Fahri? Enak aja, menjalankan agama yang nguntungin aja. Jual- jual ayat tentang poligami tapi gak pernah ngamalin ayat tentang ’menjaga pandangan’. Apalagi ngerealisasikan ayat tentang bangun tengah malam alias shalat ’Tahajud’. Bangun sih iya tapi buat nonton bola!”

Jadi mungkin butuh keyakinan yang kaffah serta ilmu yang cukup untuk menampilkan Islam yang sempurna seperti di novel, bukan begitu kang Abik????

Namun, di balik semua tanya dan komentar di atas. Setting film AAC selalu membuat setiap hati rindu untuk menontonnya lagi. Membuat setiap insan hendak berada disana, di tengah goresan indah Allah yang dengan baik ditampilkan oleh sang sutradara. Keren, untuk segi pengambilan gambar. Pemilihan pemeran adalah hal yang paling layak diacungi jempol, sesuai karakter. Wajah simpatik, mata indah, senyum riang, cantik cerdas, gurat terluka nan kejam. Passsss banget! Apalagi ditambah akting pemeran AAC yang Oke, Te-o-pe!

Semoga tulisan ini, dapat menjadi semangat dan pendorong untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Karena saya yakin Indonesia punya sineas- sineas hebat.

Tidak ada komentar: