Jumat, Agustus 01, 2008

arti yang lain

“Gw yakin, lo pasti bakal klepek- klepek kalo udah baca surat cinta Rean,” perempuan berambut sebahu di hadapan Aisya masih saja getol mempromosikan Rean Karna, anak fakultas sastra yang beberapa minggu belakangan rajin titip salam buat Asyia.

“Kalo gitu mending gak usah dibaca kali ya!” kalimat Asyia membuat Audrey terlonjak.

“Eits, jangan dong. Ntar Rean fikir gw gak nyampein amanatnya lagi.”

Asyia tersenyum. “Lo khan udah nyampein amanah Rean. Urusan baca ato gak khan urusan gw.”

Audrey menggeleng- gelengkan kepalanya kuat diikuti kibasan kedua tangannya.

“Duh…. Syi. Plis dong, masak tinggal baca aj susah banget sih?”

“Bacanya sih ga susah. Tapi kalo habis dibaca malah bikin susah, gimana?” todong Asyia.

“Ya gak mungkinlah,” Audrey pede. “Gw jamin deh, setelah baca, malah semua susah lo bakal ilang. Lo bakal ngerasa terbang melayang…………………..” Audrey meliuk- liuk di depan Asyia, merentangkan kedua tanganya seperti burung.

Asyia tersenyum melihat tingkah laku teman sekelasnya itu. Dalam hati Asyia membenarkan ucapan teman- teman yang lain, yang bilang kalo Audrey itu lucu.

Meski telah beberapa semester sekelas dengan Audrey. Baru sebulan belakangan ini dia bisa berbincang- bincang lama dengan Audrey. Itupun selalu untuk urusan Rean.

Audrey duduk kembali di sebelah Asyia.” Dibaca ya!” pujuk Audrey lagi.

Asyia mengipas- ngipaskan amplop merah muda itu di depannya. “Berarti surat ini kayak narkoba dong.”

Dahi Audrey berkerut. “Narkoba?”

Asyia mengangguk.

Kerutan dahi Audrey makin bertambah.

“Waktu temen gw make narkoba, mereka juga bilang gitu. Semua susah bakal hilang. Kita akan ngerasa bebas, terbang, melayang, gitu!” Asyia menatap Audrey tajam.

”What’s?” Audrey bengong.

”Bener khan?” desak Asyia.

Audrey menggaruk- garuk kepalanya.

”Terus terang gw rada- rada bingung sama pemahaman- pemahaman lo. Kita sedang membicarakan surat Syi, surat yang ditulis seorang Rean buat lo dengan segenap hati, dengan cinta, Asyia. Kita sedang membicarakan rangkaian kalimat indah yang dibuat oleh seseorang yang memiliki perasaan istimewa buat lo, Asyia,” giliran Audrey menatap Asyia tanpa kedip. Menatap perempuan di hadapannya dengan beribu tanda tanya.

Asyia tersenyum lagi. “Apa bedanya narkoba sama perasaan yang lo agung- agungkan itu?”

“Ya bedalah, beda banget malah.”

Asyia mengangkat alisnya mengisyaratkan penjelasan lebih.

“Narkoba jelas- jelas bisa ngancurin hidup, ngerusak saraf, ngerusak akal sehat, ngerusak tubuh bahkan ngerusak masa depan. Tapi yang sedang kita bicarakan sekarang CINTA. C-I-N-T-A,” Audrey mulai gak sabar.

Asyia tersenyum namun tetap diam membiarkan Audrey selesai dengan statementnya.

”Dengan cinta hidup ini indah, Syi.”

”Tentu.”

”Jadi?” tanya Audrey lebih ditekan.

“Hanya orang yang keras hati yang tak punya rasa cinta.”

“Nah itu lo tau,” Audrey menjentikkan jari pada Asyia.

”Ya taulah Drey. Gw ada di hadapan lo sekarang dalam keadaan sehat khan karena cinta.”

”Apaan lagi nich,” kening Asyia berkerut lagi.

”Karena cinta Allah juga, gw punya rasa cinta.”

Kening Audrey makin berkerut. ”Gw ngerti kok Drey, apa yang lo maksud. Tapi maaf, buat gw cinta yang ditawarkan Rean sama gw gak ada bedanya sama narkoba.”

Audrey memutar otak memikirkan apa yang akan dikatakan Asyia.

Asyia menyebut nama Allah dihatinya sebelum melontarkan kata- kata yang dia yakin akan menambah kerutan di kening Audrey. “Audrey.... Karena cinta yang lo maksud. Frekwensi gw mengingat Allah harus disaingi oleh mengingat sosok yang bisa saja menguasai fikiran gw. Karena cinta yang lo maksud gw harus membagi murathal qur’an gw untuk ngomongin Rean contohnya sekarang, gak ada habis- habisnya ngebahas dia. Karena cinta yang lo maksud gw gak bisa tidur dan terus mikirin dia, yang parahnya gw pasti lalai sholat tahajud. Karena cinta yang lo mak ..............”

”Asyia.............” Audrey memotong saja kalimat Asyia yang sepertinya masih sangat panjang.

“Kalo semua itu terjadi gimana nasib masa depan akhirat gw. Hidup khan bukan sekedar di dunia ini aj Drey........”

”Syi.........” Audrey memegang tangan Asyia. “Plis deh, banyak orang berjilbab kayak lo yang pacaran. Dan mereka gak mempermasalahkan itu sampe segitunya. Selagi bisa jaga batas- batas gw rasa lo gak perlu segitunya,” ceracau Audrey.

”Batas apa Drey? Pegang tangan? Kissing? Berzina itu gak Cuma dengan fisik. Zina hati juga harus dijauhi. Zina fikiran apalagi. Lagian orang berjilbab bukan ukuran mutlak kalo dia menjalankan agama secara kaffah. Lo gak seharusnya menilai sesuatu yang agung dengan pribadi yang mungkin gak tepat.”

Audrey menopang dagunya. Berfikir, menelaah kata-kata Asyia yang mungkin sebenarnya ia ketahui tapi baru kali ini disadarinya.

”Kalo mo menilai orang. Salahi aja pribadinya tapi jangan apa yang dipakenya termasuk jilbab. Ga ada yang salah dengan lambang suci itu.”

Audrey memandang Asyia. Kekagumannya tumbuh dengan sendirinya. Menyelinap melalui kata- kata menelusup ke relung hatinya.

“Oke! Kalo lo gak mo pacaran. Gimana kalo Rean serius sama lo?” tiba- tiba Audrey teringat sesuatu. Setahunya tak ada larangan bila seorang laki- laki ingin menikahi gadis yang dipilihnya.

Asyia tersenyum. Audrey memang gigih. “Insya Allah. Kalo Allah meridhoi berta’aruf adalah cara terbaik untuk gw dan Rean saling mengenal. Tapi, tentunya gw juga ingin yang terbaik buat diri gw,” putus Asyia.

“Oh ya, terserah lo mo baca surat itu ato gak. Lo tunggu, gw bakal bawa Rean untuk melamar lo,” tantang Audrey yakin. “Gw duluan ya Syi,” Audrey berdiri dan mulai beranjak.

“Assalamu’alaikum,” ucap Asyia menghentikan langkah Audrey beberapa saat.

“Wa’alaikumsalam,” Audrey menoleh dan kembali berjalan meninggalkan Asyia.

# # # # # # #

“Assalamu’alaikum,” salam yang dilontarkan Audrey membuat Asyia tersenyum menyambutnya.

“Wa’alaikumsalam,” Asyia menoleh pada orang dibelakang Audrey. Cowok berkaos hitam dengan gambar che guevara membuat Asyia kembali menunduk.

Audrey duduk disamping Asyia dan mempersilahkan cowok yang dibawanya duduk dihadapan Asyia.

Asyia memandang Audrey. “Gw buktiin apa yang gw bilang.”

Rean tersenyum memandang Asyia.

Asyia menahan Audrey ketika dia hendak beranjak pergi.

“Masak gw harus tetap di sini sih?” protes Audrey.

Tampang menghiba Asyia membuat Audrey duduk kembali.

Rean melongo bingung. Gimana mo ngomong serius sama Asyia kalo ada Audrey begini.

Audrey tersenyum penuh arti. “Sori Rean. Gw terpaksa nemenin kalian. Lo gak boleh beduaan sama Asyia.”

”Ha???” Rean melongo.

”Bukan muhrim! Ya khan, Syi?” tanya Audrey membuat Asyia tenang.

”Terserah lo deh....” Rean pasrah mulai bingung dengan pola pikir Audrey yang dikenalnya slama ini.

Asyia dan Audrey berpandangan kemudian tersenyum.

”Syi, saya mo bicara....,” Rean menarik nafas sejenak. ”Tentang kita,” lanjutnya.

”Silahkan,” ucap Asyia ramah.

”Saya gak bermaksud main- main sama kamu. Saya serius sama perasaan saya tapi saya gak mungkin melamar kamu dalam waktu singkat. Tapi saya juga gak mau kehilangan kamu,” Rean to the point.

“Maaf?” kening Asyia berkerut.

Audrey melotot. ”Lho kok?” Apaan nich anak, kenapa jadi ngelenceng begini? tanya Audrey tapi hanya di hati.

“Sekarang saya masih kuliah, berstatus mahasiswa. Saya janji, begitu kuliah selesai dan saya dapat kerja saya akan langsung melamar kamu,” Rean berapi- api.

Asyia memandang Audrey sejenak.” Maaf? Saya juga belum tentu menerima kamu.”

Deg. Jantung Rean hendak berhenti. “Lho koq?”

“Allah belum tentu menggerakkan hati saya. Seandainya pun iya, menerima janji kamu adalah tidak bagi saya. Kamu tidak berhak mengikrarkan janji jahiliyah seperti itu,” Asyia tegas menjelaskan keputusannya.

”Diri saya adalah milik Allah. Tidak ada yang berhak mengikat saya kecuali atas izin Allah melalui ikatan suci yaitu pernikahan, bukan janji yang terbiasa dilontarkan begitu saja,” jelas Asyia lagi.

Rean masih melongo.

”Rean, bila Allah berkenan tentu Dia akan menggerakkan hati kita sekarang. Lebih baik sekarang kita kuliah yang baik, ya khan! Kalo berjodoh pasti nanti kita akan dipertemukan juga, tapi kalo belum ada yang ngelamar saya atau kamu tentunya,” Asyia tersenyum memandang Rean yang kehabisan kata.

Audrey tertawa kecil melihat Rean yang biasanya ngotot, terdiam. Padahal biasanya Rean punya segudang rayuan gombal.

”Oh ya, ini surat kamu,” Asyia menyodorkan surat bersampul merah jambu yang tempo hari diberikan Audrey.

Rean menatap surat cintanya dengan pasrah.

”Maaf sebelumnya. Sepertinya kamu perlu lebih banyak belajar dari Al-quran agar syair yang kamu tulis benar- benar indah dalam arti yang sebenarnya.”

Audrey tertawa lagi menyaksikan Rean mati kutu. ”Asyia bilang, gak ada syair yang lebih indah daripada kata- kata Alquran,” terang Audrey.

”Maaf, itu menurut saya,” Asyia tersenyum.

Rean garuk- garuk kepala. Padahal semua orang bilang aq pujangga masa kini tuch, begitu fikirnya.

Asyia berdiri dan mengemaskan isi tasnya. ”Maaf saya duluan. Masih ada kuliah! Makasih ya, Rean. Da.... Audrey.... Assalamu’alaikum,” tutup Asyia melambaikan tangannya.

”Wa’alaikumsalam,” jawab Rean lemah.

”Wa’alaikumsalam.............” Audrey malah semangat.

Rean menghela nafas. ”Aq menawar cinta pada orang yang tidak menjualnya rupanya,” gerutu Rean.

Audrey berdiri. ”Makanya kalo mo belanja liat- liat dulu dong,” Audrey asal.

”Ha??? Dasar ga nyambung,” ejek Rean pada Audrey yang sudah berlari mengejar Asyia.

”Biarin!” sorak Audrey. Makasih Rean, gara- gara lo gw jadi deket sama Asyia. Baik, lembut, pintar dan keren. Banyak hal- hal menarik yang bakal gw pelajari dari Asyia. Hal- hal yang sekarang banyak terlupakan,” tekad Audrey.

_Di sUatu wAktu_





zoelzz

Tidak ada komentar: