Satu, dua, tiga hari lagi aku tak akan berseragam abu- abu, aku tak di sini lagi, di tempat yang mengukir banyak gambar hidupku, menulis bait ceritaku, menyimpan sejuta kenangan yang tak akan kulupakan.
Tinggal 3 hari aku wajib bangun pagi dan ngacir ke sekolah. Tiga hari? Kok cepet kali ya? Dulu, aku sedikitpun tak punya rasa cinta buat sekolahku. Aku masuk ke sekolah itu karena terpaksa, tak tahan mendengar rayuan gombal mama. Meski tak berniat tapi hatiku luber dengan segudang alasan dan permohonan yang dilontarkan mama. Tapi sekarang, kenapa aku yang bera………..ttttt ninggalin sekomplek bangunan yang rame dikala siang ini, gak tau deh kalo malam (hi……).
Entah apa sebenarnya yang tak ingin kutinggalkan?
Atas nama apa sebenarnya aku tak mau pergi? Sahabat, Guru, atau orang- orang istimewa yang pernah singgah di hatiku? Tapi siapa? Kahfi? Yaksa? Danar? Ega/? Du… siapa ya?
Rasa apa yang sesungguhnya menahan aku untuk tetap tinggal? Kesel, sebel, lucu, benci, cinta, sayang atau berbagai rasa lain yang selalu mewarnai hari- hariku.
Aduh……, makin banyak pertanyaan- pertanyaan yang berseliweran di benakku. Sampe- sampe aku bingung menemukan jawabnya. Semua tumpang tindih di depan mata, semua berdesakan memenuhi isi kepalaku. Huh! Aku bingung, benar- benar bingung, semua menyerbu.
Hmmmmmmmm! Seharusnya aku mengurutnya satu persatu.
Apa sebenarnya yang tak ingin aku tinggalkan? The first question.
Kusandarkan tubuhku di sandaran kursi yang baru kududuki. Menatap atap kamarku yang berwarna pelangi. Aku tersenyum puas menyaksikan hasil kerjakku sebulan lalu, seharian aku melukis pelangi itu. Pengorbananku tak sia- sia, susah payah aku mendongakkan kepala untuk mengecatnya, sampai leherku sakit lebih dari seminggu. Ck….ck…. ternyata aku berbakat mendesain.
Cling….. kini aku ingat apa yang tak mau kutinggalkan. Meja dan tempat duduk yang sudah tiga tahun menemaniku menyerap ilmu. Diberikan ketika aku kelas satu. Sudah jadi kebijakan sekolah, setiap siswa mendapatkan meja dan kursi yang akan digunakan untuk 3 tahun. Jadi, kami harus merawatnya dengan baik. Tak ada ganti bila patah atau rusak kecuali dengan merogoh kocek sendiri.
Kupandangi saja mereka, warnanya coklat tua. Udah polos, seragam pula, sungguh culun menurutku, gak ada keren- kerennya. Entah ide dari mana, dalam hitunngan detik saja berbagai kreasi dan udah nangkring di otakku. Tanpa berlama- lama, keesokan harinya aku sudah mempersiapkan alat- alat tempurku. Stiker dari band kesayangan sampe karikatur idola kupasang di meja. Berbagai tulisan pembangkit semangat dan moto hidup tak tinggal memenuhi permukaan meja dan kursiku. Agar tak rusak mereka kubungkus dengan plastik, meski aku termasuk orang yang mencintai kerapian.
Tapi itu semua sih kelas satu doang, kelas dua dan tiga peraturan itu gak berlaku lagi. Bebas.
Kutemukan juga apa yang tak ingin kutinggalkan.
Aku berdiri dan beranjak ke dapur menjemput seceret air plus gelasnya. Glek…..glek…… kutandaskan air yang bau kutuang ke gelas cantikku.
Atas nama apa sebenarnya aku tak mau pergi?
Kubuka jendela, menatap bitan yang kerlap- kerlip.
Sekolahku termasuk sekolah favorit di kotaku, berbagai fasilitas lengkap- kap- kap di dalamnya. Dari laboratorium berbagai pelajaran, auditorium, koperasi, kantin, taman, toilet, lapangan olahraga dari bulutangkis sampe sepakbola, uks bahkan tempat nongkrongpun ada. Apa sih yang gak ada? Ya gak ada.
Ine, Syifa, Aurel, Reiza, Ikhwa, Marya, Dania, Ilfa, kayaknya gak akan habis kusebut satu persatu dari yang satu kelas, satu jurusan bahkan semua teman- teman seangkatan aku kenal dan kebanyakan dari mereka pernah nongkrog bareng aku. Sorry guys but it’s cause I am so easy going (he….. he…… narsis amat)
Nama- nama yang kusebut tadi jadi yang paling gak bisa kulupakan sampe kapanpun. Aku tersenyum mengingat mereka. Ah, aku masih bisa menghbungi mereka kok. Tiba- tiba hatiku melow. Kuhibur hatiku yang sedih ini…………
“Bila kamu ingin sesuatu, maka kamu harus yakin kamu bisa mendapatkannya, sesulit apapin itu,” aku teringat kalimat yang jadi support sangat ampuh saat aku gak pede. Kalimat dari guru yang sangat aku rindukan. Mungkin, memang sangat sulit menjadi seorang guru hingga Cuma Pak Akhyar yang sangat kuingat selama ini. Aku sayang sam asemua guruku tapi tetap, Pak Akhyar yang utama. Beliau bukan saja pintar mengajar tapi juga pandai memahami dan mendukung siswanya. Kata beliau kami bukan saja perlu ilmu akal tapi juga perlu pelajaran moral dan perasaan. Segitu hebatnya khan, padahal beliau itu hanya guru honor. Untung saja aku bukan termasuk cewek yang kesengsem sama guru sendiri. Kalo gak pasti aku udah jatuh hati sama guru fisikaku itu apalagi beliau khan masih muda dan belum menikah. Aku menganggapnya kayak abang sendiri.
Kek Umar. Sosok lain yang sangat aku kami. Beliau pesuruh di sekolahku. Udah tua tapi tetap aja kerja. Sebenarnya Kek Umar gak perlu lagi bekerja, semua anak beliau udah mapan, sanggup membiayai Kek Umar dan istrinya. Tapi, itulah Kek Umar. Beliau terus saja bekerja, padahal gajinya ak sebanding dengan semua pekerjaan yang dilakukannya. Gajinya kecil tapi kerjaannya bua….nyaakkkkkkk.
“Selagi mampu buat aa berpangku tangan apalagi bermalas- malsan. Bahagia rasanyatidak menyusahkan anak- anak,” begitu jelas Kek UmaR.
“Tapi Kek, apa gak lebih baik kakek memperbanyak beribadah,” aku bersikukuh dengan pendapatku.
Kek Umar tersenyum. “Lho, bukannya bekerja itu juga ibadah! Asalkan terus ingat dan menyebut nama-Nya.”
Aku mengangguk membenarkan. Kudengar bibir beliau tetap fasih mengucap dzikir meski sedang memotong rumput.
Oh ya. Bu Nila, tukang kue langgananku juga patut jadi teladan. Beliau pekerja keras. Janda yang harus menghidupi enam orang anaknya itu super gigih. Meskipun hanya penjaga kantin tapi Bu Nila selalu memprioritaskan pendidikan anak- anaknya. Sal………………lu……………..t.
Aku bertepuk tangan, kagum dan simpatik pada orang- orang yang tanpa sengaja mengajarkanku banyak hal, memberi tahu makna hidup, mencontohkan padaku perjuangan. Aku terharu. Air mataku berlinang. Du….h kok jadi cengeng gini………
Kutarik album foto dari tumpukan buku. Menghilangkan sedih yang menyelinap. Kubuka tiap lembarnya.
Trussssssssss… oups. Kuhentikan gerakan tanganku saat tiba di sebuah foto yang terpampang manis tepat di tengah halaman. Manis? Bukan fotonya yang manis tapi salah seorang yang ada di dalamnya. Kahfi, dengan senyumnya membuatku tersenyum. Cinta pertama! Rasa yang datangnya tiba- tiba, dari smp kita berdua udah bareng tapi gak tau kenapa di smu ini aku merasakan rasa yang aneh, baru di smu aku suka sama Kahfi. Dia bai…kkkk banget, makanya aku klepek- klepek. Perhatiannya, selalu bikin aku ge-er. Tapi aku hanya diam soalnya dia juga diam. Habis, dulu kita pernah bikin janji gak akan pacaran dengan temen sekelas. Tabu. Sialnya, sampe sekarang aku dan Kahfi selalu satu kelas. Ini nih yang namanya senjata makan tuan. Hmmmm…. kayaknya ini satu- satunya alasan aku pengen cepet- cepet lulus. Semoga dia nembak aku! But, gimana kalo dia Cuma nganggap aku teman. Idih… kalo gitu mending gak usah lulus- lulus. Biar aku tetap terus bareng dia. He…. He…..
Kubalik lagi album. Eits… dasar abg, meski aku pastiin aku suka sama Kahfi tapi aku juga gemes banget kalo ngeliat nyengirnya Yaksa. Anak bahasa yang gokilnya minta ampun. Meski begitu dia selalu bikin aku hepi dan ceria di dekatnya. Ketawa terus. Padahal aku pernah nolak dia tapi dia tetap aja baik sama aku. Ih, aku jahat ya! Abis gimana dong aku suka Kahfi.
Aku menggaruk kepala. Dasar jayus. Kubalik lagi lembaran foto dan tersenyum lagi. Kutatap fotoku bareng Ega waktu piknik ke luar
Kuraih gitar yang nyantai di samping kursiku. Ter….temg… jre…ng… kurambas gitar nyanyiin lagu band yang aku suka, D’massiv. Yaelahhhh……. Itu malah ngingatin aku sama Danar, anak kelas sebelah yang gape mainin alat musik bersenar itu. Dia lucu, udah gitu aneh. Kata temen- temen dia suka sama aku, sampe- sampe dia sakit waktu denger aku digosipin pacaran sama Ega. Danar sih gak pernah ngomong langsung sama aku tentang perasaannya, kata temen- temen dia takut sama aku. Huh… emangnya aku makan orang. Aneh. Dia emang pemalu tapi kenapa harus pake alasan takut segala? Tapi biarin deh, lagian walaupun dia keren aku tetap gak mau kok sama dia soalnya aku suka Kahfi.
“Ye… Norak!” kuejek diriku sendiri.
Sebel juga memiiki rasa yang gak bisa diungkapkan. Aku mematut diri di depan cermin. Kuperhatikan bibirku yang monyong, maju beberapa senti. Jelek. Kuangkat tulang pipikku dan kutarik ujung bibirku membentuk satu senyum. wuih, ternyata senyumku manis. Begini lebih baik.
Aku berfikir lagi. Kenapa aku ingin tetap tinggal? Padahal aku pernah kesel waktu poster tokoh favoritku ditambahin kumis sama si Irfan.
Aku juga selalu bete kalo si centil Caca dan Neina selalu saja menggoda Kahfi.
Pernah marah waktu sobatku Ilfa dituduh kleptomania. Bayangin dituduh kleptomania alias maling. Hampir saja aku menonjok Elga, anak ang menuduh itu. Untung aja dia menarik kata- katanya, kalo gak bonyok tuh dia.
Dulu ulangan, aku pernah dapet nilai 3, aku ngerasa bego banget dan sempat down. Tapi jadi geli sendiri waktu tau ternyata semua teman sekelasku juga dapat nilai tiga. Bego semua khan! Padahal kelasku adalah kelas unggulan. Huh, kelas unggulan juga manusia…. He……he….
Aku pernah bahagia di
Aku punya sayang di
Jadi yang mana dong yang bikin aku sedih banget…. Perpisahan?
Hm……. Dari ujung ke ujung, dari a sampe z, dari bulat ampe gepeng, dari 0 hingga 10. yang pasti semua kurindukan. Tapi, tetap aku harus pergi!
_ rewrite, 15 april ’08 at 03.20 wib _

Tidak ada komentar:
Posting Komentar