Jumat, Agustus 01, 2008

kena juga khan!!!!

Che memandang langit malam. yang bertabur bintang sambil memeluk gitar sabiannya. Pikiran Che terbang menuju bintang yang bersinar terang di pekat malam. Mata Che menyipit ketika menumbuk satu bintang di langit utara. “Kenapa bintang yang satu ini terangnya beda ya?” tanya Che entah pada siapa. Diperhatikannya tulang beberapa bintang yang bertenger dan bintang itu malah terlihat semakin terang. Che tersenyum. “Bener juga lagu tempoe doeloe....... Banyak- bnayak bintang di langit tapi hanya satu yang paling terang....” Mulut Che komat- kamit mengikuti petikan gitarnya membentuk nada yang ga jelas. Che tersenyurn lagi menyaksikan gemerlap langit yang sedari tadi menemaninya ngejreng- ngejreng gitar.

Huhhh........

Che menghembuskan nafas kuat. Hatinya sedang bimbang, perasaannya tak tenang. Berulang kali Che manggaruk kepalanya, bukan karena ketomben atau kutuan tapi ya itu tadi lagi gundah gulana.

Sebagai playboy nomor wahid, sedikitpun ga ada rasa takut di hati Che kalo tiba- tiba gadis- gadis Che mengetahui belang Che sebenarnya. Karena saat memilih langkah jadi playboy Che telah siap dengan segala konsekuensi playboy, termasuk diputusin. No problemo. Toh Che juga ga menganggap cewek- cewek itu penting. Jadi kalo mo bye- bye, ya monggo... silahkan saja.

Sebagai seorang perayu ulung Che juga ga pernah nyesal udah mengorbankan beberapa hal untuk perempuan- perempuan yang ditaksirnya. Soalnya menurut Che, sebagai cowok, biasa aja lagi berkorban buat cewek. Mo habis waktu, habis dana, habis tenaga ga masalah. It’s just called man.

But..................

Che ga bakal mengorbankan hati dan perasaannya. Dua hal yang selama ini ga boleh diganggu gugat sepanjang petualangannya. Che ga akan ambil pusing apalagi stress kalo datang masalah yang melanda, cuex aja ngejalaninya nyantai biar mengalir kayak air sungai yang belum tercemar. Begitu juga dengan perasaan Che, masih suci belum terkontaminasi dari rasa yang disebut CINTA.

Dan sekarang. Suddenly Eya, teman sebangku dadakan Che memperdengarkan sebaris kalimat yang asli menyita pikiran Che bahkan mulai mempengaruhi perasaannya.

“Lo ga pernah kepikiran kalo tiba- tiba lo jatuh cinta sama orang yang ga mempedulikan lo?”

Kening Che berkerut mendengar ucapan cewek yang suka banget pelajaran sastra itu. “Apa?” Che memutar tubuhnya menghadap gadis yang tetap asyik membaca novel dihadapannya.

“Lo budeg? Mangnya lo ga dengar apa yang gw bilang?” cewek manis itu tak juga memandang ke arah Che meski sedikiiiit.

“Bukannya gw budeg, gw cuma mo memperjelas aja. Maksud lo apa?” Che menarik novel dari pegangan cewek berambut sepingang itu.

“Apa- apaan sih!” Eya merampas kembali hartanya.

Che melotot. “Abis lo itu ngomong apa baca???”

“Dua- duanya!” Eya cuek membalikkan lembaran novelnya.

“Eya..... maksud lo apa?” Che melunak ngalah karena penasaran. Eya memandang Che sejenak hingga kemudian tertawa.

“Kenapa sih lo?” Che heran melihat kelakuan Eya.

“Muka lo lucu bener,” Eya masih tertawa.

“Lucu? Ganteng iya,” jawab Che pede.

Eya mengangkat bahu dan kemudian kembali mempelototi huruf- huruf novelnya.

“Heh non! Kalo ngomong itu bertanggung jawab dong, jangan digantung gini. Nyebelin banget sih,” Che ketus

Eya menelungkupkan bukunya. “Lo Cuma digantung omongan aja sebelnya sampe segitu. Gimana cewek- cewek yang perasaannya lo gantung ya?” Eya meneliti tiap inci paras Che.

Che mengerutkan keningnya. “Kayaknya lo ga nyambung deh. Gw cuma tanya lo tadi nanya apa? Kenapa lo malah ngelayap kemana mana?” Che ga kalah menatap Eya.

“Emangnya perlu gw ulang ya?”

“Yoi,” Che mangangguk kuat. “Dan jelasin!”

“Begini ceritanya ,“ Eya ménahan kalimatnya..

Che menyenggol Eya tanda ga sabar. “Lo sebenarnya mo ngomong apaan sih?”

Eya mesem. “Ga sabar banget sih lo!”

“Habis, lo itu mo cerita atau ga?” Che cemberut.

“Ye gitu aja marah. Tadi gw bilang gimana kalo lo jatuh cinta sama orang yang ga peduli sama lo?”

Che berfikir sejenak. “Kenapa lo bisa berfikir kayak gitu?” tanya Che penuh selidik.

“Orang nanya malah balik nanya!” protes Eya.

“Wajar dong, soalnya ini menyangkut diri gw.”

Eya menganguk. “Boleh deh,” putusnya. “Gini Khenan, gw sering baca truz gw juga sering nonton. Nah banyak banget cerita yang nyeritain playboy kayak lo jatuh cinta sama orang yang ga terduga, contohnya orang yang ga mempedulikannya. Bertepuk sebelah tangan gitu,” terang Eya. “Singkatnya kena karma!”

Che menelan ludah. “Ah itu khan Cuma cerita,” kilah Che.

“Siapa bilang? Cerita- cerita itu ada karena ilham dan kisah nyata.”

“Masak sih. Bukannya semua itu sekedar karangan penulis?” Che mulai serius mendengar cerita Eya.

“Lo mo contoh? Liat Niken! Dia khan laris manis, kenapa dia harus jatuh cinta sama lo. Padahal khan lo itu tega abis- abisan sama dia. Gw jadi heran padahal banyak tuh cowok yang suka sama dia.”

“Ga seganteng gw kali,” canda Che.

“Ye..... ganteng banget malah. Udah gitu tajir truz keren pokoknya kalo dibandingin sama lo sih lewat.”

Che tersenyum mendengar penuturan polos Eya.

“Asal lo mo tau, banyak banget yang ngejar- ngejar dia.”

“Kecuali gw.”

“Nah itu dia. Kenapa Niken malah terus ngarepin lo?”

Che tersenyum. “Ngikutin perkembangan juga, gw pikir lo taunya baca doang.”

Eya mencibir. “Mau ga mau tingkah norak lo pasti diketahui orang juga. Apalagi Niken khan tetangga gw.”

“Berarti rumah lo deketan sama Niken?” Che surprised.

“Ya.. .kira- kira lima rumah lah dan rumah Niken.”

“Mmm...” angguk Che.

“Khenan, lo itu emang si super tega ya! Emangnya lo ga takut kena karma, ya!”

“Ah gw khan having fun aja. Biasa anak muda, kenapa lo serius amat sampe ngubungin semua ke karma?”

Eya melotot. “Apa? Having fun? Ini tentang perasaan, Khenan. Seenaknya aja lo! Lo ga punya perasaan ya?”

“Udahlah, masalah sama Niken khan udah lama banget.”

“Justru itu, sampe sekarangpun Niken masih cinta aja sama lo.”

“Jadi lo Cuma mo ngungkit masalah itu?” gantian Che yang panas ga terima didakwa.

Eya menggeleng. “Ya engga gitu. Kebetulan cerita tadi nyambung jadi sekalian aja siapa tau hati lo luluh,” jawab Eya cuex.

Che tersenyum nyaksiin gaya santai Eya menanggapi amarahnya.

“Kenapa lo senyum- senyum?”

“Ternyata lo gila juga ya!” jawab Che sembari tertawa.

Eya menjulurkan lidah. “Enak aja,” Eya ikut tertawa. ”Gw doain kena karma mampus lo.”

Che mengerlingkan matanya. “Iya juga, buat pemanasan aja gw udah kena sial.”

“Sial?”

“Lo liat aja, segitu banyak cewek di sini kenapa gw mesti ditunjuk duduk sama lo?” ucapan Che bikin dia dihadiahi Eya pukulan bertubi- tubi.

Che tersenyum bahkan hampir terbahak mengulang cerita tadi siang.

Buuu. . .uu kkkk.

Che menghempaskan tubuh ke tempat tidumya yang terletak tepat di tengah kamarnya. Dipandanginya kotak- kotak ubin atap kamar.

“Gimana ya kalo orang yang gw cintai ga nerima cinta gw?” Che bertanya pada dirinya sendiri. “Duh tersiksa juga tuh!” Che bergumam. “Gimana kalo omongan Eya bener ya? Cinta bertepuk sebelah tangan?” Che memeluk gulingnya erat. “Jangan deh! Tersiksa lahir bathin tuh!” Che geleng- geleng kepala. “Jangan! Jangan! Jangan deh.” Dikatupkannya mata melupakan karma meski sebenarnya ini bukan lagi waktunya tidur.

#######

Sepanjang pelajaran kimia tadi Che sekuat tenaga membuka matanya. Che benar- benar ngantuk berat. “Mungkin ngobrol dengan Eya dapat ngurangin hasrat tidur gw,” begitu pikir Che.

”Tapi...” Che melongo melihat Eya melenggang rneninggalkannya sendiri tepat saat guru kimia keluar kelas membiarkan siswa kelas itu istirahat. ”Seumur- umur baru kali ini gw dikacangin kayak gini,” gerutu Che. Che terus saja ngedumel mesti Mitha udah duduk manis di sebelahnya bahkan ga lama kemudian Nina, Chintya dan Bunga juga udah nimbrung di sekeliling Che. Cewek- cewek itu heran ngeliat pangeran mereka merepet sendiri. Cemas, takut Che sakit apalagi kesurupan. Che terdiam saat Nina memegang keningnya. Che memandang cewek- cewek di dekatnya. Mereka melontarkan kata- kata yang semakin lama semakin ga bisa didengar Che.

Uaaaaaaa hhhhhhhhh.

Che menganga selebar- lebarnya. Kantuknya hadir kembali. Che melipat kedua tangan dan menelungkupkan kepalanya membuat siswi- siswi itu ngacir sebel ditinggal Che yang tidur.

“Che! Kamu ga papa?” suara prihatin pak Asnan menggema di telinga Che.

Che mengangkat kepalanya. Memperhatikan guru favoritnya itu menunduk menepuk pundaknya. Che mengucek mata.

“Kamu sakit?” tanya pak Asnan lagi.

“Ga Pak, saya ga papa! Cuma pusing sedikit.”

Pak Asnan mengangguk. “Ya sudah, tidur saja atau mo ke UKS?” Pak Asnan khawatir pada siswa yang paling jago dalam pelajarannya.

Che menoleh, memandang Eya yang asyik membaca novel teenlitnya. “Serius amat,” gumam Che. Che mengangkat kepalanya memperhatikan seisi kelas yang temyata sedang memandangnya. Duhhhhhhhh.. . .kok bisa?????

#######

Sudah hampir semua penghuni sekolah menanyakan keadaan Che. Dari anak kelas satu sampe kelas tiga. Dari murid- murid sampe guru- guru. Bahkan ibu kantin, tukang sapu dan pak satpampun perhatian padanya. Hanya tinggal satu orang yang sedikitpun ga berbasa- basi mengenai perubahan Che. Ga mungkin kalo orang itu ga merasakan perubahannya. Keterlaluan. Che memandang orang itu. Memperhatikan cewek yang sebentar lagi akan menghenyakkan pantatnya di bangku sebelah Che.

“Napa lo liat gw kayak gitu?” Eya menyikut Che setelah duduk dengan manis.

Che mengerutkan keningnya

“Ye... ditanya malah bengong,” ucap Eya.

“Kenapa sih, kalo jam istirahat ato ga da guru lo selalu pindah dan sini?” Che mau tau jawab dan pertanyaan yang kemarin di pendamnya.

Eya mengangkat bahu.

“Kayaknya lu ga betah banget lama- lama deket gw sekali ada kesempatan langsung aja lo kabur.”

“Ii.... Lo kok sensitif gitu sih?” Eya menepuk pundak Che pelan.

“Ga seneng lo duduk sama gw?” todong Che.

“Mmmm...... ya ga gitulah.”

“Jadi?”

“Jadi, gimana?”

“Ya... yang itu tadi!” Che menekan ucapannya.

Eya menggigit bibirnya sebagai tanda mencari jawab atas pertanyaan Che.

“Gw cuma mo ngasih kesempatan sama penggemar lo aja kok.”

“Lagi- lagi Che mengerutkan keningnya. Ga nyambung!”

“Kok ga nyambung? Kalo ga ada gw khan mereka bisa leluasa ngerubungi lo,” terang Eya.

“Alasan apaan tuch, ga rasional. Ga mungkin kalo alasan lo Cuma itu!” selidik Che.

“Kenapa ga mungkin? Daripada fans- fans lo gangguin baca gw mendingan gw kabur duluan.”

“Nah tuh khan, sebenarnya lo yang terganggu!”

Eya tersenyum. “Itu khan tandanya, gw ga mau temen- temen yang lain terganggu dengan kehadiran gw di sisi pangerannya.”

“Basi!”

“He... .he....” Eya nyengir.

“Eya! Lo itu khan temen sebangku gw, masak lo ga ada perhatian dikit gitu sama gw.”

“Perhatian?”

“Iya! Toleransi dikit kek.”

“Toleransi? Perhatian? Apa- apaan sih, kok gw lama- lama ga ngerti gitu sama arah omongan lo!” Eya memandang Che heran.

“Itu yang pas pelajaran kimia. Lo kok tega- teganya sih ga ngebangunin gw?”

“Hm... o.. . itu. Semua orang udah ngebangunin lo Khenan. Lonya aja yang ga bangun- bangun juga sampe Pak Asnan masuk. Abis begadang ya?”

‘Semua orang, kecuali lo khan!” todong Che.

“Gw?” Eya menunjuk dirinya dan memutar otak mengingat- ingat kejadian itu. “Ooooo... iya! Eya menepuk jidatnya. Haabis, gw lagi seru- serunya namatin novel baru sih. Jadi ya.... Sori deh... keasyikan baca,” Eya nyengir lagi.

Ha!!! !??????? Che menganga selebar- lebarnya tapi bukan karena ngantuk tapi HEEE RRRRRRRRRRRANNNN.

#######

Che sendiri di teras kamar memandang bintang seperti waktu itu. Menelaah satu- persatu mahkota malam yang tersusun acak di atas sana. “Lo ga pernah kepikiran kalo tiba- tiba lo jatuh cinta sama orang yang ga mempedulikan Io,” tiba- tiba suara cempreng Eya menggema begitu saja mengitari telinga Che.

“Jatuh cinta sih boleh- boleh aja tapi masak sama orang yang ga memperdulikan gw sih? Ngapain? Mana mungkin gw suka sama orang yang nyuekin gw. Ga logika! Seharusnya gw jatuh cinta sama orang yang perhatian sama gw, sayang sama gw. Nah itu baru bener. Lagian siapa sih yang nyuekin gw, yang ada orang- orang pasti selalu cari perhatian gitu sama gw. CHE!” Che menepuk dadanya bangga.

“Ada- ada aja. E...... “ Che menghentikan ucapannya..

“Eya?” lanjutnya lagi.

Wajah Eya terlukis di langit dengan sendirinya. Che mengangkat alis. “Eya!” ulangnya.

“Eya yang satu- satunya ga memperdulikan gw. Ya Bener. Satu- satunya,“ Che menggaruk kepalanya.

Eya satu- satunya yang memanggilnya Khenan padahal Che udah jadi nama kebanggaannya.

Eya orang pertama yang bisa mengganggu pikiran Che dengan pertanyaannya dengan sikapnya.

Dan sekarang Eya jadi orang pertama yang mengganggu perasaannya.

“Du.. .hhh kok Eya sih?” omel Che.

“Malu dong naksir orang yang ngacangin gw!”

Che geleng- geleng kepala. Che menepuk- nepuk jidatnya. Masih ga percaya.

But....

Che menjentikkan jarinya.

“Bisa jadi Eya emang sengaja buat gw penasaran karena........ Eya emang mo cari perhatian gw. Hmmmm..... “ Che mengusap- usap dagunya.

“Ya.... Ya. . . ! !“ Che tersenyum.

“Sekarang gw tau maksud lo, Ya! Gw todong lo besok. Lo ga bakalan bisa ngeles. Gw akan tanya sejelas- jelasnya,” tekad Che.

#######

“Ya! Eya!” Che menahan Eya yang udah start kabur ke bangku lain berhubung guru biologi mereka ga masuk.

“Ada apa Khenan?” Eya duduk kembali.

“Apa maksud lo bilang gw bakal jatuh cinta sama orang yang nyuekin gw?”

Eya mengangkat bahunya sembari menggeleng. “Ga ada maksud apa- apa kok!”

Che menatap Eya ga percaya.

“Gw Cuma nanya doang kok!” Eya mencoba meyakinkan Che.

“Ah ga mungkin! Pasti Io ada maksud!” Che masih ga percaya.

“Ih... ga percaya. Waktu itu kebetulan aja novel yang gw baca ceritanya kayak gitu,” terang Eya.

“Alah, lo pasti sengaja khan!” Che ngotot.

“Sengaja? Engga kok. Gw...... “ ucapan Eya terhenti ketika beberapa anak Osis masuk ke kelas mereka. Yendra, ketua Osis membacakan pengumuman di depan kelas.

Che melihat sekilas dan tak terlalu memperdulikan pengumuman Bazar yang akan dilaksanakan anak- anak kreatif dan inovatif itu. Che menoleh lagi pada Eya. “Ah, ngaku aja. Lo pasti sengaja khan!” Che kembali ke topik semula.

Eya memandang Che sejenak dan menggeleng namun kembali memandang ke depan kelas.

“Gw tau kok. Lo sengaja bilang hal- hal yang kemarin biar gw kepikiran terus. Biar gw ingat terus sama lo khan! Biar gw terbayang bayang wajah lo melulu. Biar gw suka sama lo. Gitu khan! Dan semua itu karena sebenarnya lo juga suka sama...” celotehan Che tertahan menyadari Eya yang sedari tadi serius memperhatikan sesuatu. Bukan karena serius dengar pengumuman tapi malah sibuk memperhatikan yang bacain pengumuman.

Eya tersenyum- senyum memandang Yendra.

Che meneliti cewek cuek itu. “Lo suka sama Yendra?” Che meneruskan kalimatnya tadi tapi dengan nama yang berbeda.

Eya tersenyum malu dan mengangguk dengan tetap memandang Yendra yang sepertinya juga memandang Eya.

Bruuuuuuuukkkkkkkkkkkkk

Hati Che jatuh dan hancur berkeping- keping. Perkiraannya SALAH BESAR. Eya bukan pura- pura tapi emang benar- benar tak memperdulikannya. Eya yang BENAR. Che kena KARMA. Cinta Che bertepuk sebelah tangan. Che jatuh cinta sama orang yang ga mempedulikannya.

NA SIIBBBBBBBB na ssiiiiibbbb bbbbbbb.......................

_Di suatu hening_





zoelzz

Tidak ada komentar: